Panggil saja Willi dia asli Bangka Belitung, pulau yang menjadi saksi dimana sebuah cerita yang melegenda terjadi. Laskar Pelangi, kisah itulah yang membuat Bangka Belitung menjadi tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Awalnya ku kira Willy pendiam karena masih berat meninggalkan kampung halamannya untuk mengemban ilmu di kota Pahlawan ini. Namun ketika ia telah mendapatkan banyak teman dia berubah menjadi sosok yang ingin terus bersuara. Berani, itulah yang kulihat dari dirinya. Semua bahasa yang terucap dari mulutnya lebih identik ke bahasa Indonesia, padahal masyarakat Indonesia sering menggunakan bahasa Jawa.
Ketika ada sebuah pembahasan yang di dalam grup wattsap Willi selalu aktif dalam meresponnya. Setiap pertanyaan dari teman-temannya selalu ia usahakan untuk bisa menjawab. Namun entah mengapa tiba-tiba Willi menuliskan kata jorok dalam grup tersebut, dan mirisnya perkataan itu dia ucapkan ke salah satu teman perempuan kelompok kami. Mila namanya, baginya, itu kali pertama dia mendapatkan kata jorok itu. Namun bagi Willi, ucapan yang ia ucapkan adalah sapaan yang dia bawa dari kampung halamannya. Saat itu aku sadar mungkin dia sedang berbaur dengan lingkungan baru. Apa boleh buat, aku sebagai teman barunya harus bisa menoleransi perkataannya. Karena jika aku mengedepankan ego untuk mengajarkan sopan santun dengan cara keras, mungkin saat ini kami tidak akan berteman dengan baik. Kami sebagai anggota satu kelompok bisa berteman dengan cepat. Aku dengan perlahan mengajarkan tata kerama yang baik padanya, lalu dia menerimanya dengan baik pula. Itulah mengapa kita sebagai manusia harus bisa mengembangkan budaya toleransi yang sudah mendarah daging di negeri ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar